Sabtu, 08 April 2017

#memesonaitu Pancaran Positif Diri Kamu

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, secara harfiah #memesona itu artinya sangat menarik perhatian atau mengagumkan. Oleh karena itu, untuk menjadi pribadi yang memesona tentunya kita harus mempunyai suatu hal yang bisa menarik perhatian orang lain. Suatu “hartakarun” dalam diri kita yang bisa menginspirasi bahkan orang lain pun ingin memilikinya. Berupa apakah “hartakarun” itu?. Menurut saya, “hartakarun” itu berupa hal-hal positif yang ada dalam diri kita. Jadi, #memesonaitu saat kita bisa memancarkan hal-hal positif yang ada dalam diri kita terhadap orang lain, khususnya orang-orang terdekat kita. Karena saat kita bisa memancarkan hal positif pada orang terdekat kita dulu, maka secara tidak langsung ini akan menyebar juga pada lingkungan sekitar kita bahkan seluruh dunia.


Nah apa saja hal-hal positif tersebut? Bisa apa saja tergantung pribadi masing-masing karena setiap orang tidaklah sama. Kita masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan inilah yang harus kita maksimalkan bahkan kalau bisa kita membuat kekurangan kita menjadi sebuah kelebihan yang positif. Tidak perlu menjadi sempurna juga, cukup minimal satu hal positif yang ada dalam diri kita yang kita maksimalkan dan pertahankan. Hal-hal positif yang bisa berupa bakat, potensi, kemampuan, sifat, karakter dan fisik. Mungkin ada beberapa diantara kita yang memiliki hal positif karena merupakan sebuah “gift” dari Tuhan. Misalkan diberikan wajah yang cantik/ ganteng tapi kalau kita tidak bisa memanfaatkannya atau menjaganya untuk hal positif dan yang bisa menginspirasi orang terdekat kita maka “gift” itu tidak bisa memesona orang. Begitu juga dengan bakat, potensi atau kemampuan kita, kalau kita tidak memanfaatkannya secara positif maka hal itu  juga tidak bisa memesona orang lain.

Bagaimana dengan saya sendiri?. Menurut saya hal positif yang saya miliki dari dulu sampai sekarang adalah selalu berusaha menjadi pribadi yang periang. Sampai sekarang masih saya pertahankan, walaupun kadang susah karena situasi-situasi tertentu. Tapi menurut suami saya, itulah kelebihan saya yang memesona dia. Karena misalkan saat bangun pagi saya sudah periang dan tersenyum terus sampai dia berangkat kerja. Mood dia di tempat kerja dia pun bagus, hubungan dia dengan rekan kerja pun lebih baik. Bahkan mungkin ini mempengaruhi mood rekan kerjanya juga menjadi ke orang sekitarnya lagi. Tidak hanya suami, saat saya riang, anak saya pun akan merasa bahagia juga secara tidak langsung, seharian dia pun akan bermain dengan senang. Padahal bisa dibilang saya ini pribadi yang jauh dari sempurna, tidak mempunyai bakat atau potensi tertentu, dari segi fisik juga biasa saja tapi kata suami saya dengan saya bisa terus bersikap dan mempertahankan sifat positif dalam diri saya aja buat dia itu sudah cukup.

Jadi kalau kita ingin jadi pribadi yang memesona, tidak perlu memiliki semua dan tidak perlu yang harus memesona semua orang. Cukup temukan dan memaksimalkan satu hal positif dalam diri kita yang bisa memesona orang-orang terdekat kita dulu. Mungkin terkadang beberapa dari kita tidak tahu atau yakin kita memiliki hal yang bisa memesona orang lain. Tapi menurut saya, kita semua pasti punya hal positif tersebut hanya saja terkadang kita tidak sadar karena kurang percaya diri atau sering membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain. Kalau kita ragu, tanyakan pada orang terdekat kita yang pasti bisa merasakannya dan tahu siapa kita.    

Itulah arti #memesonaitu menurutku, kalau menurut kamu, apa arti #memesonaitu?. Yuk ikutan blog competition “#MemesonaItu“ dengan cara daftar di http://www.pancarkanpesonamu.com/memesonaitu/, lalu submit blog link kalian atau kalian bisa langsung post cerita kalian pada websitenya langsung bagi yang tidak memiliki blog. Daftar dan post cerita kalian sebelum tanggal 10 April 2017 yah,  akan ada hadiah 2 kamera mirrorless untuk 2 orang, dan 5 voucher MAP sebesar  IDR 1.000.000 serta 20 hampers menarik.

Ayo temukan pesona kalian! J


Rabu, 25 Juni 2014

Makna Sebuah Titipan

oleh: WS. Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Pesan Sponsor
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh
Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah…
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Senin, 23 Juni 2014

Sikap



Melalui tulisan ini saya ingin menyatakan sikap saya tentang isu-isu SARA yang masih saja suka dihembuskan orang-orang. Memang isu-isu yang terkait SARA ini merupakan cara jitu bagi pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Dan sebenarnya hal ini memang sampai kapan pun tidak bisa dipisahkan dari masyarkat kita karena ini menyangkut atribut yang tertempel pada setiap individu di masyarakat kita. Tapi kita sebagai generasi penerus yang hidup dizaman dimana teknologi dan informasi bebas mengalir keluar masuk, seharusnya kita lebih bisa cerdas lagi memanfaatkannya untuk menggali informasi sedalam-dalamnya dan fakta dibalik isu-isu yang dihembuskan tersebut. Kita tidak boleh begitu dengan mudahnya mempercayai apa kata orang, kita harus bisa memilah-milah informasi dan menganalisinya apakah betul seperti itu atau ini. Selain itu, sudah banyak sekali perkawinan lintas ras, etnis, agama, bahkan Negara, yang melahirkan anak-anak keturunan. Jadi, menurut saya, isu tersebut sudah ketinggalan zaman.

Sebagai contoh pengalaman hidup saya. Saya memang bukan orang penting apalagi pintar dan mungkin sebenarnya pengalaman hidup saya tidak terlalu “wah” untuk dijadikan contoh kasus. Tapi dilahirkan dalam keluarga yang ber”bhineka tunggal ika” membuat saya merasa sedikit lebih paham tentang isu-isu ini. Bagi saya selalu saja ada peristiwa-peristiwa menarik dalam hidup saya karena saya dilahirkan setengah tionghoa (ayah) dan setengah jawa (ibu). Baik yang bersifat negative ataupun positif. Pernah suatu hari teman saya mengungkapkan ketidaksukaannya kepada etnis tionghoa, lalu saya pun bilang kalau saya juga termasuk keturunan etnis tionghoa. Saya tidak malu dengan ini, saya malah bangga karena mengalir darah ayah saya. Aayah yang selalu saya banggakan dan mengajarkan banyak hal baik tentang hidup kepada saya. Tapi saya memang sadar bahwa kadang masih ada aja stigma negative dimasyarakat tentang orang keturunan tiongkok. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkannya karena mereka merasa dirugikan dan diperlakukan tidak adil. Manusiawi. Sebaliknya ada juga orang keturunan tiongkok yang mempunyai stigma negative kepada orang pribumi karena mungkin mereka juga merasa termajinalkan dan juga diperlakukan tidak adil. Contohnya temen saya, dia bercerita berulang kali keluarganya “dimanfaatkan” sama pihak tertentu karena dia orang china. Dan kakaknya pun harus diungsikan ke China karena situasi politik yang tidak menentu di Indonesia pada saat itu. Mendengarkan ceritanya membuat saya merasa bersalah juga karena saya juga memilki atribut yang sama dengan pihak-pihak yang merugikan temen saya. Sepintas saya berharap kalau saya bukan “half” tapi “penuh” agar saya bisa bener-bener merasa apa yang dia rasakan dan membela dia tanpa harus mempertimbangkan atribut saya yang lain. Tapi saya salah karena adanya ragam atribut yang saya miliki justru membuat saya merasa lebih bisa berfikir jernih untuk melihat suatu permasalahan tidak hanya dari satu sisi saja. Saya selalu berusaha memahami posisi mereka masing-masing walaupun mungkin tidak sama seperti apa yang diarasakan mereka sebenarnya. Tapi pada akhirnya saya simpulkan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah atau tidak ada yang benar diantara mereka. Ini murni merupakan kesalahpahaman, bagi saya. Dan ini tidak ada kaitannya dengan atribut-atribut yang tertempel pada diri mereka.

Dan kenapa sampai sekarang masih saja ada isu-isu tersebut dan sensitive?. Jelas karena trauma. Manusiawi. Karena memang begitu adanya sejarah, mutlak tidak bisa diubah. Sejarah akan selalu seperti itu adanya. Tapi seharusnya sejarah itu bukanlah alat untuk memperburuk keadaan sekarang, harusnya sejarah menjadi alat untuk memperbaiki masa sekarang. Karena tentunya kita tidak ingin mengulang kembali sejarah yang tidak baik pada hidup kita bukan. Kalau saya tidak mau.

Jadi terkait isu-isu SARA, saya lebih memilih untuk tidak mudah terprovokasi atau percaya begitu saja dengan isu-isu tersebut. Karena pada dasarnya saya yakin dan tahu bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan hidup rukun pada umatnya. Adapun etnis, rasa tau suku juga tidak ada hubungannya sama sikap tidak baik dari diri sesorang. Karena pada dasarnya semua individu manusia adalah baik. Kita semua dilahirkan di dunia ini dalam wujud bayi yang suci dan fitrah. Jadi, kalau ada isu tentang seseorang “A” yang berbuat tidak baik kepada orang lain “B” yang tidak sama agama, ras, etnis atau suku pada si orang “A” tersebut, saya memilih untuk tidak membawa dan mempercayai bahwa orang tersebut berbuat tidak baik karena atribut yang tertempel pada dirinya. Bagi saya, kesalahan orang itu mutlak sebagai kesalahan individu tanpa atribut apapun yang terkait pada dirinya.

Every human life is worth the same, and worth saving. Thus, living in diversity should be made you happier because your life is not just about black or white, but colorful.